CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Kamis, 07 Januari 2010

/ Home / Investasi

Senin, 14 Desember 2009 | 09:31

HARGA KOMODITAS

Harga Minyak Mulai Tergelincir dari Level US$ 70



JAKARTA. Harga minyak mentah dunia semakin terpuruk. Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu (11/12), harga minyak WTI untuk pengiriman Januari 2010 di bursa NYMEX Amerika Serikat (AS), turun 0,95% menjadi US$ 69,87 per barel. Berarti, harga minyak terlempar dari kisaran US$ 70 per barel.

Jika menghitung sejak sepekan sebelumnya (4/12), harga minyak telah tergelincir 7,42%. Analis Indosukses Futures, Herry Setyawan menilai, lambannya pemulihan ekonomi global menjadi pangkal utama melemahnya harga minyak dunia. Industri cenderung malas bergerak sehingga permintaan minyak masih rendah. "Apalagi, masalah utang Dubai dan penurunan peringkat Yunani semakin menandai kondisi ekonomi global belum pulih," ujarnya.

Di sisi lain, program stimulus ternyata melenceng dari sasaran. Kucuran duit stimulus lebih banyak menyasar sektor konsumsi dan investasi di pasar saham. Padahal, program stimulus semula diharapkan membantu menggerakkan roda industri. Khususnya, sektor yang mengandalkan sumber energi minyak.

Vice President Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckheere menimpali, langkah organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) menambah kuota produksi sebesar 4,2 juta barel juga semakin menggerus harga minyak. Alhasil, cadangan minyak bakal berlimpah lantaran permintaan masih sepi.

Namun, menurut Nico, bila melihat tren penguatan di pasar saham akhir-akhir ini, harga minyak bisa kembali menguat beberapa pekan ke depan. Pasalnya, kenaikan indeks bursa saham diasumsikan sebagai ekspektasi atas pemulihan ekonomi global.

Menuju US$ 65

Herry berpendapat lain. Ia bilang, penguatan sejumlah pasar saham dunia tak bisa dijadikan sinyal mutlak bahwa ekonomi global mulai bergerak. Sebab, kondisi itu bukan lagi menggambarkan pemulihan ekonomi, tapi hanya peralihan dana stimulus. "Penguatan indeks bursa saham juga merupakan bukti bahwa dana stimulus tidak digunakan semestinya," imbuhnya.

Saat ini, lanjut dia, yang menjadi indikator paling realistis dalam melihat pergerakan harga minyak adalah menguatnya nilai tukar dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia. Secara historis, harga minyak berkorelasi negatif dengan laju The Greenback. Ketika dollar AS rebound beberapa hari terakhir, harga minyak turun.

Dalam jangka pendek, harga minyak bisa terus terkoreksi hingga US$ 65 per barel. Minyak akan rebound jika dollar AS melemah dan ekonomi menggeliat. Herry meramal, gairah harga minyak baru akan terjadi pada kuartal pertama 2010. Dana stimulus yang banyak mengalir ke sektor konsumsi akan memicu inflasi. Alhasil, Bank Sentral AS bakal mengerek suku bunganya. "Saat itu, pemegang dollar AS profit taking," ujarnya.


Ade Jun Firdaus KONTAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar